twitter

PD PII BREBES


PACARAN

Assalamu'alaikum akhi... ukhti... :D akhir - akhir iniii,,, 'bukan' maksud saya sudah sejauh ini, dari kita masih bocah sampai udah sebesar ini "pacaran" adalah sesuatu yang kerap terjadi pada sepasang kekasih yang saling mencintai, lalu... apakah dari pacaran, cinta yang kata orang itu indah menjadi semakin indah? kayaknya nggak ah, kebanyakan dimasa sekarang status pacaran adalah penyebab dari hamilnya kaum perempuan sebelum dia menyandang status istri, bahkan lebih parah lagi, dari pacaran banyak para perempuan yang hamil tanpa ada lelaki yang bisa disebut suami... langsung aja deh kita bahas...
menurut wikipedia, Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.
katanya sii. pacaran itu identik dengan "cinta" lalu apa sih artinya cinta?
wikipedia bahasa Indonesia mengatakan, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
lalu apa saja dampak yang terjadi dari pacaran? berikut ulasannya :

1.      Tersebarnya hubungan intim di luar nikah
Penelitian yang dilakukan terhadap 633 siswa [345 pria dan 288 wanita] Sekolah Lanjutan Atas di kota besar di Bali didapatkan bahwa 27 % siswa pria mengaku pernah melakukan hubungan badan dengan lawan jenis dan 18 % pernah terjadi pada siswa puteri. (Pangkahila, W. 1981).[1] Dan pada tahun 1981 pernah dilakukan penelitian oleh Tempo yang menunjukkan angka 17,02 % responden yang setuju dengan senggama sebelum nikah.[2]
Hasil penelitian remaja di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta oleh Ramli Bandi dkk, 1991, menunjukkan bahwa dari responden yang berjumlah 3967 menyatakan bahwa 19,6 % perilaku/tindakan pada waktu pacaran yang dilakukan oleh remaja tersebut yaitu 41,4 % mengaku hanya berkunjung ke rumah dan bercanda, 37,4 % Menyatakan cium pipi, cium bibir dan yang menyatakan pernah melakukan senggama 4,1 %. Dari yang menyatakan pernah bersenggama dilakukan pertama kali pada usia 15–19 tahun menunjukkan 49,8 %. Dan, melakukan dengan pacarnya 37,5 %. Sedangkan dengan WTS [pelacur] sebanyak 20,8%.[3]
Hasil penelitian di atas dilakukan sekitar tahun 1980-an dan tahun 1990-an sebelum maraknya media sosial, mudahnya mengakses internet, penggunaan smartphone [ponsel canggih], serta semakin mudahnya menyantap media transportasi maupun informasi seperti sekarang ini yang bisa didapatkan oleh semua kalangan.
Kementerian Kesehatan RI, 2009, pernah merilis perilaku seks bebas remaja dari penelitian di empat kota yakni Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Hasil yang didapat sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah. (www.poskotanews.com)
2.      Menjamurnya perzinaan di kalangan anak muda
Fakta mengejutkan ini diungkapkan Kepala Badan Koordinasi Keluarga berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief. Data yang dimilikinya menunjukkan sejak 2010 ini diketahui sebanyak 50 persen remaja perempuan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah tidak perawan karena melakukan hubungan seks pra nikah. Remaja putri ini mengaku sudah pernah melakukan hubungan suami istri diluar nikah. Bahkan, tidak sedikit di antaranya hamil di luar nikah.
“Dari data yang kia himpun dari 100 remaja, di mana 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan,” jelas Sugiri kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (28/11/2010).
Selain di Jabodetabek, ungkap Sugiri, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia. Ia merinci, di Surabaya remaja perempuan lajang yang sudah hilang kegadisannya mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Menurutnya, data ini dikumpulkan BKKBN selama kurun waktu 2010 saja.
Dari kasus perzinaan yang dilakukan para remaja putri, yang paling dahsyat terjadi di Yogyakarta. Pihaknya menemukan dari hasil penelitian di Yogya kurun waktu 2010 setidaknya tercatat sebanyak 37 persen dari 1.160 mahasiswi di kota Gudeg tersebut menerima gelar MBA (marriage by accident) alias menikah akibat hamil maupun kehamilan di luar nikah. (www.nahimunkar.com)
3.      Terjadinya perkelahian atau tawuran antar pelajar maupun mahasiswa
Data akhir tahun yang dihimpun Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukan angka memprihatinkan. Sebanyak 82 pelajar tewas sepanjang 2012.
"Komnas PA mencatat 147 kasus tawuran. Dari 147 kasus tersebut, sudah memakan korban jiwa sebanyak 82 anak," ujar Arist dalam konferensi pers catatan akhir tahun di Kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2012) pagi.
Menurut Arist, angka itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 128 kasus. Kondisi itu pun semakin menunjukkan kekerasan sesama anak dalam bentuk tawuran menjadi fenomena sosial yang patut diwaspadai. (www.kompas.com)
Kalau kita telisik lebih mendalam, salah satu yang memicu terjadinya perkelahian atau tawuran antar pelajar ialah saingan dalam berpacaran, atau merasa kekasihnya direbut oleh pelajar yang lain. Kondisi ini sangat disayangkan, hanya dilatarbelakangi perkara negatif saja [pacaran] mereka berani mengorbankan fisik maupun nyawanya.
4.      Meningkatnya jumlah penderit HIV/AIDS dan pecandu narkoba
Data Kementerian Menteri Kesehatan akhir Juni 2010 mencatat, terdapat 21.770 kasus AIDS serta 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun, yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun 30,9 persen. Selain itu, kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual 49,3 persen, homoseksual 3,3 persen, dan IDU 40,4 persen. Sementara soal data penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya. (www.liputan6.com)
Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan data yang mengejutkan soal penderita penyakit HIV/AIDS. Diperkirakan sebanyak lebih dari 200.000 penduduk Indonesia menderita penyakit HIV/AIDS.
“Dengan total populasi 240 juta, kita memiliki prevalensi HIV 0,24 persen dengan estimasi ODHA 186.000. Data itu masih mungkin lebih besar dan bisa capai lebih dari 200.000” ungkap Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan, M. Subuh, dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, 25 November 2011. (www.tempo.co)
Prevalensi [4] penyalahgunaan narkoba dalam penelitian BNN dan Puslitkes UI serta berbagai universitas negeri terkemuka, pada 2005 terdapat 1,75 persen pengguna narkoba dari jumlah penduduk di Indonesia. Prevalensi itu naik menjadi 1,99 persen dari jumlah penduduk pada 2008. Tiga tahun kemudian, angka sudah mencapai 2,2 persen. Pada 2012, diproyeksikan angka sudah mencapai 2,8 persen atau setara dengan 5,8 juta penduduk. (www.kompas.com)
5.      Kerap terjadi kematian, pembunuhan maupun bunuh diri
Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang angka kematian tertinggi di Asia tenggara disaat melahirkan. Dari 100 ribu angka kelahiran, 307 orang ibu meninggal akibat aborsi. Hal ini disampaikan oleh dr Budi Santoso dari Divisi Fertilitas Endrokinologi Reproduksi Obstetri dan Ginekolog Fakultas Kedokteran Unair-RSUD Dr Soetomo dalam Seminar Nasional Pengaturan Kesehatan Reproduksi : Legalisasi dan atau Liberalisasi Abortus ? di Fakultas Hukum Unair, Surabaya, Selasa (24/11/2009). "Di Indonesia ada 1,5 juta ibu yang menjalani aborsi yang tidak aman," kata Budi.
Menurut Budi, dari persentase 11-13 persen angka kematian ibu (AKI) diakibatkan adanya kematian aborsi tidak aman (unsafe abortion). "Di Seluruh dunia tercatat kurang lebih ada 50 juta ibu menjalani unsafe abortion." (www.detik.com)
Kasus aborsi yang mengakibatkan kematian sering kali dilatarbelakangi oleh hubungan intim di luar nikah, karena mereka belum siap memiliki anak atau tidak mau menanggung malu dengan kehamilannya di luar nikah, maka tindakan aborsi pun terpaksa mereka lakukan, dan yang menjadi resikonya apabila gagal ialah kematian dirinya.
Kita juga sering mendengar berita, baik di media cetak maupun elektronik tentang terjadinya pembunuhan terhadap pacarnya karena dianggapnya telah berkhianat, atau akibat sakit hati ditinggal mantan kekasihnya. Demikian juga, tidak sedikit yang kita temukan seorang remaja wanita yang bunuh diri akibat telah diperkosa oleh pacarnya, atau tidak mau menahan malu akibat hamil di luar nikah yang mendorong dirinya untuk mengakhiri hidupnya. Dan berita-berita yang semisalnya yang merupakan sederet akibat buruk dari dunia pacaran dan pergaulan bebas di kalangan remaja maupun anak muda.
6.      Kebobrokan moral, akhlak dan mental para remaja dan anak muda
Akibat marak dan tersebarnya tradisi pacaran di kalangan remaja dan anak muda, ternyata berdampak buruk dalam perkembangan moral, akhlak maupun mental mereka. Hal itu disebabkan oleh kebiasaan buruk yang terjadi selama pacaran, ditabraknya norma-norma agama maupun adat masyarakat, serta terbentuknya angan-angan maupun obsesi kosong mereka sebagai akibat dari pergaulan bebas yang banyak sekali melanggar nilai-nilai agama.
Inilah yang kemudian memunculkan kasus-kasus pemerkosaan, aborsi, pencurian, malas dalam beribadah, jauh dari nilai-nilai agama, menurunnya semangat belajar, maraknya prostitusi, kasus hamil di luar nikah, kelahiran anak yang tidak diinginkan, dan yang semacamnya.
Sebagai contohnya, pada tahun 1981 pernah dilakukan penelitian oleh Tempo yang menunjukkan angka 17,02 % responden yang setuju dengan senggama sebelum nikah.[5] Itu adalah hasil penelitian tahun 1980-an, maka bagaimana dengan sekarang ini? Bukankah pemikiran semacam ini menunjukkan akan bobroknya moral maupun akhlak mereka, jauhnya dari nilai-nilai dan pemahaman agama yang benar.
7.      Maraknya perdagangangan anak-anak dan remaja
Perdagangan manusia secara global kini semakin meningkat. Menurut informasi Badan PBB untuk Anak-Anak UNICEF, saat ini lebih dari 25 persen korban yang ditemukan adalah anak-anak. Bentuk eksploitasi korban yang paling sering adalah pelacuran paksa dan pekerja paksa. Komisi Eropa memperkirakan, keuntungan yang diraup melalui perdagangan manusia di dunia lebih dari 25 miliar Eropa per tahun. Hal ini juga dibenarkan Jörg Ziercke, presiden jawatan kriminal Jerman. Kebanyakan dari korban perdagangan manusia yang ditemukan polisi Jerman dalam razia tahun 2011, berusia di bawah 21 tahun, ujar Ziercke. Dua belas persen berumur antara 14 dan 17 tahun, 13 korban bahkan lebih muda dari 14 tahun. (www.dw.de). Bahkan Indonesia dinyatakan menempati urutan terburuk di dunia bersama dengan beberapa negara lain di Asia dalam hal perdagangan anak dan perempuan. (www.hukumonline.com)
Adapun salah satu penyebabnya ialah banyaknya anak-anak maupun remaja yang terjebur dalam pergaulan bebas, di antaranya adalah dunia pacaran. Akibat pacaran yang sudah tidak mengenal batas ruang dan waktu, terkadang mereka terjebak oleh iming-iming uang oleh orang yang tidak dikenal, atau ditipu oleh laki-laki yang mengaku sebagai kekasihnya selama ini, atau diculik karena pulang rumah terlalu larut malam, atau karena dirinya sudah merasa hancur hidupnya disebabkan pemerkosaan oleh pacarnya sehingga dirinya masuk ke dunia pelacuran, dan yang semisalnya.

Pula merasa bahwa anak yang dihasilkannya adalah akibat perzinaan, maka dirinya tidak ragu-ragu untuk menjualnya, karena keberadaan anak itu hanya akan menambah beban hidupnya, terlebih dirinya terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Inilah buruknya dunia pacaran yang ikut andil terhadap maraknya perdangangan anak maupun remaja.
8.      Kerap terjadi kasus aborsi
Angka pengguguran kandungan [aborsi] jumlahnya sangat mencengangkan. Menurut data dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia [PKBI] setiap tahun dua juta aborsi terjadi di Indonesia, 750 ribu di antaranya remaja. Sementara, menurut polling dokter di Surabaya, enam dari 10 remaja di Jakarta dan Surabaya tidak perawan. (Republika, 8 Agustus 2000). [6]
Berdasarkan data yang dikeluarkan BKKBN, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa. Bahkan, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja. Seperti di Surabaya tercatat 54 persen, Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. (www.jurnas.com)
Data kasus aborsi yang tercatat di Komisi Nasional Perlindungan Anak meningkat pada 2012, yakni 121 kasus, dengan mengakibatkan delapan orang meninggal. Menurut Ketua Komnas Anak, pada 2011 kasus aborsi tercatat ada 86 kasus. "Ini berarti terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Sebanyak 121 kasus aborsi itu dilakukan oleh anak SMA dan SMP atau di bawah 18 tahun," kata Arist saat ditemui di kantornya, Rabu, 30 Januari 2013. (www.tempo.co)
9.      Banyak terjadinya kasus pemerkosaan
Di awal 2013 saja tercatat sebanyak 25 kasus pemerkosaan yang tersebar di wilayah di Indonesia. Indonesia Police Watch (IPW) mencatat Jawa Barat adalah wilayah yang banyak terjadi tindak pidana pemerkosaan.
"Di Jawa Barat ada 8 kasus, Jakarta 5 kasus, Jawa Tengah 5 kasus dan Jawa Timur 3 kasus," ungkap Ketua Presidium Indonesian Police Watch, Neta S Pane. Yang lebih miris lagi bahwa kasus-kasus perkosaan itu dilakukan oleh oleh para pelajar setingkat SMP. (www.detikcom).
Di Mesir saja dalam angka penelitian yang dilakukan oleh Dr. Fadeya Abu Syuhbah menyebutkan bahwa telah terjadi 20 ribu kasus perkosaan di Mesir setiap tahunnya. Ini berarti setiap satu jam kurang lebih terjadi satu perkosaan di Mesir. Pelakunya 90% adalah orang-orang pengangguran (di Mesir terdapat 6 jutaan pengangguran). (www.arrahmah.com).
nb :
[1] Media Litbang Kesehatan, Depkes RI, Volume XI Nomor 1 Tahun 2001, hal 30.
[2] Pacaran Dalam Kacamata Islam, hal 52
[3] Media Litbang Kesehatan, Depkes RI, Volume XI Nomor 1 Tahun 2001, hal 32.
[4] Prevalensi : Jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah. (www.artikata.com)
[5] Pacaran Dalam Kacamata Islam, hal 52
[6] Pacaran Dalam Kacamata Islam, Abdurrahman Al-Mukaffi, hal 57.

bayangkan kawan... benda bernama "pacaran" bisa menjadi pelopor terjadinya hal - hal yang sudah disebutkan di atas.
Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Allah berfirman : "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)

Intinya, dalam islam tidak ada pacaran...
lalu bagaimana jalan keluar yang islam ajarkan nih...?
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
tapi gimana bagi yang sekarang masih SMP, SMA, atau yang sekarang hidupnya masih bergantung pada orang tua *kalimat halus untuk yang belum kerja hehe :)* kan gak mungkin menikah dalam kondisi yang demikian.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu: ”Kami bersama Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam para pemuda yang tidak memiliki apa-apa. Kemudian beliau sallallahu ’alaihi wa sallam berkata kepada kami:“Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan (biologis maupun materi), maka menikahlah. Karena hal itu lebih dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa karena hal itu menjadi benteng baginya”. HR. Bukhori, no. 5066. Muslim, no. 1400.
Allah berfirman : “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nuur: 33)
*) semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk taat pada Perintah Nya pun semoga Allah memberikan kekuatan kepada hati kita untuk menjaga diri dari hal - hal yang tidak baik untuk dilakukan. Allahu a'lam


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran
https://id.wikipedia.org/wiki/Cinta
http://saedas-saedy.blogspot.com/2013/11/kala-fakta-dan-realita-berbicara-akibat.html
http://untungsupriyanto.tripod.com/id8.html
http://rumaysho.com/muslimah/ingin-naik-pelaminan-namun-belum-mampu-beri-nafkah-10135.html

0 komentar:

Posting Komentar